Joey Pelupessy Hatinya Hancur di Timnas

JOEY PELUPESSY

Setelah mengambil kewarganegaraan Indonesia di Roma pada bulan Maret, Joey langsung terbang ke Sydney untuk laga kualifikasi melawan Australia.

Lima hari kemudian, debut resminya terjadi di Jakarta. Hasilnya manis. Indonesia menang 1-0 atas Bahrain. Itu seperti awal dari kisah yang sempurna. Seperti mimpi yang akhirnya menjadi nyata.

Dan bagi Joey, mimpi itu hanya punya satu tujuan yaitu Piala Dunia 2026. Namun mimpi itu tidak berlangsung lama.

Joey menyebut mimpi Piala Dunia-nya berlangsung 206 hari, dari laga pertama di Sydney hingga kekalahan 0-1 pada 11 Oktober 2025 melawan Irak di Arab Saudi.

Kekalahan itu merobek semua kemungkinan. Lalu, pukulan berikutnya datang. Kluivert dan seluruh staf Belanda dipecat. Joey tak terkejut.

“Kamu tahu itu bisa terjadi. Begitulah dunia sepak bola.”

Tapi rasa sakit tetap tidak bisa dihindari. Indonesia kalah lagi. Harapan makin menipis. Dan ketika Irak mencetak gol kemenangan menit ke-87, semuanya runtuh.

Satu gol yang menghancurkan seluruh impian. Joey tidak menyembunyikan kenyataan bahwa waktu tidak berpihak padanya.

“Saya bisa bermain di Piala Dunia. Ini satu-satunya kesempatan saya, seratus persen.”

Lima tahun lagi ia akan berusia 37 tahun. Ia realistis.

“Harusnya ini terjadi sekarang.”

Dan kalimat itu terasa seperti luka terbuka. Karena di sepak bola, ada hal-hal yang tidak bisa ditunda. Tapi Joey Tidak Menyesal: “Saya Bangga…”

Meski gagal menembus Piala Dunia, Joey tetap bangga. Ia menyebut pengalaman ini sebagai sesuatu yang memperkaya hidupnya, sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya.

“Saya sudah bermain di Australia, Jepang, Bali, Surabaya, Jakarta, dan Saudi Arabia. Semua itu sangat berarti bagi saya.”

Dan kini ia menatap target baru yakni juara Piala Asia 2027. Indonesia sudah lolos. Dan Joey punya satu tekad:

“Tugas saya adalah menunjukkan bahwa saya masih layak di timnas.” (Int)

Exit mobile version