Anies: Uang Rp50 M Bukan Milik Sandi

SIARMALUKU.COM – Teka-teka pinjaman mantan Gubernur DKI, Anies Baswedan sebesar Rp50 miliar dari pasangannya saat Pilgub DKI Jakarta, Sandiaga Uno, akhirnya terjawab. Uang pinjaman ‘politik’ tersebut ternyata bukan milik Menteri Pariwisata RI itu.  

Klarifikasi  bakal calon (Balon) Presiden RI dari Partai Nasdem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat itu disampaikan dalam  Podcast Marry Riana yang diposting pada akun youtubenya, Sabtu 11 Februari 2023.

Postingan yang sudah ditonton lebih 554 ribu pengunjung itu, Anies secara blak-blakan memaparkan alur uang yang heboh belakangan ini.

Anies menyebutkan, saat kampanye Pilgub, banyak orang yang menyumbang kepada pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Bahkan, sumbangan tersebut ada yang mereka tahu dan ada juga tidak.

Saat itu, lanjut dia, ada dukungan dari pihak ketiga yang dimana pemberi pinjaman  meminta  dicatat sebagai utang. Bila pasangan Anies-Sandi berhasil, kata dia, maka dicatat sebagai dukungan. Bila tidak berhasil dalam Pilgub, maka dicatat sebagai utang. “Nah disitu Sandiaga Uno sebagai penjamin dari pihak ketiga. Ada suratnya. Surat pernyataan utang, dan saya yang tandatangan. Dan dalam surat itu disampaikan, apabila pilkada kalah, maka saya dan pak Sandiaga Uno berjanji mengembalikan. Dan saya dan pak sandi. Apabila kami menang pilkada, maka ini (uang Rp50 M) dinyatakan sebagai bukan utang, dan ini selesai,  tidak perlu dikembalikan, itulah yang terjadi. Makanya setelah pilkada menang, maka ini selesai,” tegas Anies.

Mantan Gubernur DKI ini menambahkan, yang ingin digaris bawahi dirinya, bahwa kenapa dalam perjanjian kalah harus membayar uang tersebut, dan menang tidak perlu membayar.

Alasannya, jika kalah maka dia berada di luar pemerintahan dan dia memiliki kesempatan untuk bekerja atau berusaha mengembalikan utang tersebut.

“Kalau saya menang, saya masuk pemerintahan, maka saya tidak cari uang di pemerintahan untuk membayar itu,  kalau saya mengumpulkan uang di pemerintahan untuk membayar utang, maka bukankah ini yang menjebak kita selama ini, segala macam praktek fun racing untuk biayai pilkada. Kemarin sebaliknya,  bila saya kalah, maka saya mengembalikan. Sah dong saya di luar pemerintahan, saya cari uang  untuk membayar. Tapi kalau saya menang, maka tidak usaha bayar, disitulah bentuk dukungan Anda untuk menciptakan Jakarta jauh lebih baik,” jelasnya.

Menurut Anies, hal itu sebenarnya dirahasiakan, cuma  ada  yang mengungkap, sehingga dia ceritakan. Bahkan, kata dia, dokumen perjanjian tersebut ada, dan dia memperbolehkan bila ada pihak yang ingin melihat dokumen tersebut. “Boleh saja, karena tidak ada yang luar biasa disitu,” ungkapnya.

Untuk itu, ditegaskan mantan Menteri Pendidikan RI ini, hingga kini  tidak ada  utang yang  harus dilunasi. Sebab, ketika  pilkada selesai dan mereka menang, maka dana tersebut tidak perlu dikembalikan.  

“Nah menjadi aneh ketika kita membicarakan ada  utang yang belum selesai. Sebab, pilkadanya telah selesai,” tambahnya.

Anies berharap,  pola perjanjian  yang dilakukan saat Pilgub DKI perlu menjadi bahan referensi untuk dipikirkan, bahwa mendukung untuk perubahan, bukan mendukung sebagai investasi yang nanti dikembalikan dalam bentuk privilege. (SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *