Pasang Sasi untuk Damai di Tual

SiarTual — Raja, Tokoh Masyarakat akhirnya memasang hawear (sasi) dan penancapan meriam Portugis (Lola) sebagai ikrar perdamaian atas konflik antar kelompok yang terus saja terjadi di Kota Tual.

Pemasangan sasi tersebut dihadiri langsung Kapolda Maluku, Irjen Pol Prof Dadang Hartanto, Wakil Walikota Tual, Amir Rumra, sejumlah Muspida dan raja-raja di Kota Tual.

Prosesi adat dipimpin oleh Raja Dullah, Raja Tual, dan Raja Ohoitahit, diawali dengan pembacaan sumpah adat, pemasangan sasi sebagai larangan adat, serta penancapan meriam Portugis (lela) sebagai simbol pengikat perdamaian yang memiliki konsekuensi sosial dan adat yang kuat. Komitmen itu digelar di Desa Ngadi, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual, Kamis (8/1/2026), serta disaksikan warga setempat.

Kapolda Maluku menegaskan bahwa perdamaian berbasis adat bukan sekadar simbolik, melainkan fondasi penting bagi keamanan jangka panjang.

“Perdamaian adat memiliki kekuatan moral dan sanksi sosial yang sangat kuat,” tegas Kapolda.

Kapolda juga mengingatkan bahwa kamtibmas adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya Polri, melainkan seluruh elemen masyarakat.

Ia menegaskan bahwa konflik tidak pernah melahirkan pemenang sejati dan justru meninggalkan luka sosial yang berkepanjangan.

Dalam konflik tidak ada yang benar-benar menang. Yang kalah menjadi abu, yang menang pun menjadi arang, ujarnya.

Kapolda berharap perdamaian di Desa Ngadi dapat menjadi contoh nasional bahwa permasalahan sosial dapat diselesaikan melalui jalur damai, manusiawi, dan berkeadilan.

Sementara Wakil Walikota Tual, Amir Rumra menyampaikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjaga stabilitas keamanan dan mengajak masyarakat menjunjung tinggi nilai-nilai adat serta hukum sebagai landasan hidup bersama.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *