Ibunda Tercinta Ditemukan Sujud Masih Berbalut Mukena 

Kisah Erik Andesra, Pria yang Merental Alat Berat untuk Mencari Jasad Ibunya:

Tangan ini, yang seharusnya memeluknya dalam keadaan hidup, kini bertugas mengevakuasi jenazahnya. Bau lumpur, dingin, dan sisa kehancuran adalah saksi bisu. Aku adalah anak laki-lakinya yang harus menerima kenyataan pahit: Ibu telah pergi.

​Namun, yang kutemukan bukanlah pemandangan kematian yang tragis. Di antara puing-puing rumah yang luluh lantak oleh terjangan banjir bandang, jasad Ibu terbaring, tidak, ia bersimpuh.

​Ibu masih mengenakan mukena putihnya. Utuh. Tenang. Ia ditemukan dalam posisi paling agung bagi seorang hamba: sujud.

​Detik itu, aku tahu. Banjir itu datang saat ia sedang berdiri di hadapan Tuhannya. Saat ia mengucapkan takbir, saat ia merendahkan diri di sajadah. Ia tidak sempat lari. Ia memilih untuk tidak panik. Ia memilih untuk menyambut maut di puncak ketaatannya.

​Bagaimana mungkin aku berduka sepenuhnya?

​Aku memeluk mukena yang basah dan berlumpur itu. Dinginnya menyengat, tetapi jiwaku merasakan kehangatan yang tak terperi. Aku mengingat setiap kalimat yang seolah dibisikkannya padaku, pesan terakhir yang kurasakan getarannya di hati:

​“Ibu pergi dengan cara yang paling suci. Ia memilih bersujud, saat dunia di sekitarnya runtuh.”

​Air mata ini terus mengalir, bukan lagi karena kehilangan, tetapi karena kesaksian atas kemuliaan yang diberikan padanya. Ya, aku kehilangan ibuku, tetapi aku menyaksikan ibuku dijemput dalam keadaan yang sempurna.

​“Ini bukan duka, ini adalah kehormatan dari Tuhan. Air mata saya kini adalah air syukur.”

​Aku memeluk erat surat terakhir yang kuyakini ia tinggalkan. Bukan surat tertulis, melainkan pesan keimanan yang terpahat pada jasadnya yang sujud. Ibu telah mengajariku dengan cara terakhirnya: sholat adalah benteng, bahkan saat air bah menjadi takdir.

​Ibu, aku akan selalu mengingatmu, bukan sebagai korban bencana, melainkan sebagai Syahidah Sujud—wanita yang memilih Keagungan-Nya di atas segala kekacauan dunia. 

Ibunda Erik adalag satu dari ratusan korban tragedi tanah longsor tang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat. 

Erik seorang anak yang menunjukkan ketulusannya mencari jasad ibunya dengan merental alat berat karena lambannya pemerintah dalam melakukan evakuasi pencarian para korban. 

(Cerita ini disadur ulang dari postingan Nissya digrup facebook pecintah makkah madinah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *